BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
belakang Masalah
Pendidikan jasmani adalah satu
fase dari proses pendidikan keseluruhan yang menggunakan kemampuan gerak
individu secara sukarela, tetapi bermakna langsung terhadap perkembangan
mental, emosional, dan sosial (Nixon dan Jewett 1980:13). Konskuensinya, pendidikan
jasmani harus dirancang secara khusus untuk memberikan pengaruh yang baik
terhadap jasmani, emosional, sosial dan intelektual.
Olahraga dalam sebuah kerangka
sistematik berarti sebuah usaha sadar untuk membentuk dan mendirikan
komponen-komponen masukan, proses, dan luaran pembangunan olahraga. Sistem
keolahragaan nasional adalah keseluruhan aspek keolahragaan yang saling terkait
secara terencana, sistematis, terpadu, dan berkelanjutan sebagai satu kesatuan
yang meliputi: pengaturan, pendidikan, pelatihan, pengelolaan, pembinaan
pengembangan, dan pengawasan untuk mencapai tujuan keolahragaan nasional.
1
|
Menurut
pendidikan dan ahli psikologi, bermain merupakan pekerjaan masa anak-anak dan
cermin pertumbuhan anak (Gordon dan browne, 1985:266). Bermain merupakan
kegiatan yang memberi kepuasan bagi diri sendiri. Melalui bermain anak
memperoleh pembatasan dan memahami kehidupan. Bermain merupakan kegiatan yang
memberikan kesenangan dan dilakasanakan untuk kegiatan itu sendiri, yang lebih
ditekankan pada caranya dari pada hasil yang di peroleh dari kegiatan itu
(Dworesky, 1990:395). Kegiatan bermain di laksanakan tidak serius dan
fleksibel. Bermain berarti berlatih, mengesplorasi, merekayasa, mengulang
latihan apapun yang dapat dilakukan untuk mentransformasi secara imajinatif
hal-hal yang sama dengan dunia orang dewasa (Hildebrand 1986:54)
Bermain pada intinya adalah aktivitas
yang digunakan sebagai hiburan. Kita mengartikan bermain sebagai hiburan yang
bersifat fisikal yang tidak kompetitif, meskipun bermain tidak harus selalu
bersifat fisik. Bermain bukanlah berarti olahraga dan pendidikan jasmani,
meskipun elemen dari bermain dapat ditemukan di dalam keduanya.
Permainan sepakbola merupakan
salah satu cabang olahraga yang digemari masyarakat Indonesia dan banyak
dimainkan oleh seluruh lapisan masyarakat, baik itu anak-anak, remaja, dan
orang tua. Selain itu olahraga sepakbola juga banyak di mainkan oleh kaum
perempuan baik di luar negeri maupun dalam negeri. Untuk pembinaan para pemain
yang berpotensi dan berbakat akan dibina atau dilatih. Untuk meningkatkan
keterampilan pemain perlu adanya organisasi sebagai tempat pembinaan.
Organisasi tersebut biasa disebut dengan klub, dalam klub sepakbola tersebut
perlu adanya manajemen organisasi untuk kelangsungan organisasi sepakbola
tersebut. Karena dalam unsur manajemen itu meliputi perencanaan,
pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan sehingga tujuan dari organisasi
tersebut dapat tercapai. Dalam organisasi sepakbola tersebut juga mencakup
pembinaan bagi para pemain. Pembinaan para pemain sepakbola dimulai dari
masing-masing klub, kemudian klub daerah dan yang terakhir klub tingkat
nasional.
Pertandingan sepakbola dimainkan
oleh dua tim yang masing-masing beranggotakan sebelas pemain. Masing-masing tim
mempertahankan sebuah gawang dan mencoba memasukkan bola ke gawang lawan.
Setiap tim memiliki kiper yang diperbolehkan mengontrol bola dengan tangannya
di daerah pinalti yaitu daerah yang berukuran lebar 44 yard dan 18 yard pada
garis akhir. Pemain lainnya tidak diperbolehkan menggunakan tangan dan lengan
mereka untuk mengambil bola, tetapi mereka dapat menggunakan kaki, tungkai dan
kepala. Gol diciptakan dengan menendang atau menanduk bola kedalam gawang
lawan. Setiap gol dihitung dengan skor satu dan tim yang paling banyak
menciptakan gol memenangkan permainan. (Luxbacher, 1998:2).
Walaupun permainan sepakbola
bersifat beregu namun penguasaan teknik dasar sangat diperlukan. Hampir seluruh
permainan dimainkan dengan keterampilan kaki, badan dan kepala untuk memainkan
bola. Namun demikian agar dapat bermain sepakbola yang baik perlu bimbingan dan
tuntunan tentang teknik dasar dan keterampilan bermain sepakbola.
Keterampilan adalah derajat
keberhasilan yang konsisten dalam mencapai suatu tujuan dengan efektif dan
efisien. Semakin tinggi kemampuan seseorang mencapai tujuan yang diharapkan,
maka semakin terampil orang tersebut Amung Ma’mun dan Yudha M. Saputra
(2000:57). Keterampilan merupakan kemampuan untuk membuat hasil akhir dengan
kepastian yang maksimum, tetapi dengan pengeluaran energi dan waktu yang
minimum Schmidt yang dikutip dalam Amung Ma’mun dan Yudha M. Saputra (2000: 61).
Dalam permainan sepakbola selain
menendang kita juga harus bisa menggiring bola atau dalam kata lain dribbling “Menggiring atau men-dribbling bola adalah menendang terputus-putus
atau pelan-pelan” Sucipto (1999:28). Dari pendapat tersebut kita bisa mengetahui
bahwa menggiring bola (dribbling)
adalah suatu upaya mendorong bola secara terputus-putus, dengan posisi bola
tidak jauh dari kaki kita sambil berlari untuk mencapai tujuan tertentu dalam
permainan sepakbola.
Namun pada anak kelompok usia 13-14 tahun atau yang
popular disebut dengan junior c adalah masa usia krisis (age of crisis) penyebabnya ialah di usia tersebut, anak-anak
mengalami pubertas, pertumbuhan fisiologis sangat cepat sehingga pemain sering
asing dengan tubuhnya sendiri. Pertumbuhan cepat dimana tubuh menjadi lebih
tinggi dan besar, membuat tubuh tidak proposional dan kaku. Oleh karenanya
dimasa ini pemain sulit belajar teknik sepak bola baru. Disisi lain pemain
harus sudah mulai dilatih kekuatan untuk membiasakan diri dengan tubuhnya yang
besar.
Dengan adanya kegiatan ekstrakurikuler diharapkan anak akan lebih
banyak bergerak sehingga tidak merasa asing dengan dirinya. Kegiatan
ekstrakurikuler adalah kegiatan
pembelajaran di luar
kegiatan intrakurikuler yang
diselenggarakan secara kontekstual
dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan untuk memenuhi tuntutan penguasaan
kompetensi mata pelajaran, pembentukan karakter dasar dan peningkatan hidup
yang alokasi waktunya diatur secara tersendiri berdasarkan pada kebutuhan, kondisi sekolah, madrasah
atau daerah M. Nurrachmat (dalam Dimas 2010:13).
Tujuan dari kegiatan ekstrakurikuler sepakbola adalah untuk
menambah keterampilan, pengetahuan
serta menyalurkan bakat
yang dimiliki siswa
serta membentuk pribadi siswa
yang sesuai dengan
perkembangan siswa menurut
jenjang atau tingkatan sekolah dengan kehidupan berbangsa berdasar pandangan
hidup rakyat Indonesia. Keikutsertaan
anak pada ekstrakurikuler merupakan
suatu upaya yang sangat
tepat untuk memperkenalkan anak
pada kehidupan yang tidak
terikat oleh aturan-aturan
dalam kelas.
SMP Negeri 3 maospati merupakan salah satu sekolah yang
juga memiliki beberapa kegiatan ekstrakurikuler salah satunya ekstrakurikuler
sepakbola, SMP Negeri 3 maospati belum pernah mendapatkan gelar juara dalam
setiap pertandingan sepak bola, pada tahun 2014 SMP Negeri 3 mengikuti
pertandingan sepak bola Bupati Cup yang dilaksanakan di lapangan Maospati,
namun gagal dalam babak penyisihan, sehingga peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian di sekolah tersebut. Studi pendahuluan yang telah dilakukan
sebelumnya oleh peneliti di SMP Negeri 3 maospati menunjukan bahwa bola standar
yang digunakan sebagai media pada waktu latihan anak terlalu kaku dan bola
tidak terkontrol pada saat menggiring bola. Bola sebagai media utama kurang
menjalankan perannya dengan baik, sebab bola yang digunakan kurang dapat
memberikan pengetahuan,keterampilan, yang seharusnya dimiliki siswa dalam
menggiring bola.
Banyak cara untuk meningkatkan
teknik dribbling anak dengan baik,
salah satunya dengan menggunakan alat bantu dalam bermain, dalam hal ini
bermain menggunakan alat bantu bola plastik, karena dengan bola plastik anak
dapat lebih banyak menggunakannya, dan juga bola plastik relatif lebih murah, serta
karakteristik bola plastik lebih ringan sehingga anak lebih leluasa
menggunakannya.
Berdasarkan latar belakang yang
telah dipaparkan di atas peneliti ingin mencoba membandingkan dua media dalam
penelitian ini. Media yang akan digunakan dalam penelitian adalah bola plastik
dan bola standar. Oleh karena itu peneliti tertarik mengadakan penelitian
dengan judul “Perbandingan Bermain Bola Plastik dengan Bola Standar Terhadap Keterampilan
Menggiring dalam Permainan Sepakbola Siswa di SMP Negeri 3 Maospati”
B.
Batasan Masalah
Untuk memfokuskan masalah yang diteliti maka penulis
membatasi ruang lingkup permasalahan meliputi:
1.
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah latihan dengan bola
plastik dan bola ukuran standar.
2.
Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil menggiring
dalam permainan sepak bola.
3.
Penelitian ini menggunakan penelitian experimen.
4.
Populasi dalam penelitian ini adalah Siswa Putra SMP Negeri 3
Maospati kelas 7 dan kelas 8.
5.
Sampel dalam penelitian ini adalah Siswa Putra SMP Negeri 3
Maospati yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sepakbola sebanyak 40 orang.
6.
Jenis bola yang digunakan adalah bola plastik dan bola karet.
C.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1.
Apakah terdapat pengaruh yang signifikan bermain menggunakan bola
plastik terhadap keterampilan menggiring dalam permainan sepak bola pada siswa
di SMP Negeri 3 Maospati?
2.
Apakah terdapat pengaruh yang signifikan bermain menggunakan bola
standar terhadap keterampilan menggiring dalam permainan sepak bola pada siswa
di SMP Negeri 3 Maospati?
3.
Apakah terdapat perbedaan yang signifikan bermain menggunakan bola
plastik dan bola standar terhadap keterampilan menggiring dalam permainan sepak
bola pada siswa putra SMP Negeri 3 Maospati?
D.
Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan bermain
menggunakan bola plastik terhadap keterampilan menggiring dalam permainan sepak
bola pada siswa putra di SMP Negeri 3.
2.
Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan bermain
menggunakan bola standar terhadap keterampilan menggiring dalam permainan sepak
bola pada siswa putra di SMP Negeri 3.
3.
Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan pengaruh yang
signifikan bermain menggunakan bola plastik dan bola standar terhadap
keterampilam menggiring dalam permainan sepak bola pada siswa putra SMP Negeri
3 Maospati.
E.
Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan mempunyai kegunaan atau
manfaat penelitian sebagai berikut:
1.
Secara teoritis dapat dijadikan sumbangan keilmuan dan informasi
bagi lembaga STKIP DR. Nugroho Magetan, berkaitan dengan mata kuliah cabang
olahraga sepakbola, strategi belajar mengajar pendidikan jasmani, dan olahraga
mengenai pentingnya proses pembelajaran menggunakan alat bantu bola plastik dan
bola ukuran standar terhadap keterampilan menggiring dalam permainan sepakbola.
2.
Kegunaan Praktis
a.
Bagi siswa, dengan penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan
menggiring dalam permainan sepakbola.
b.
Bagi guru sebagai bahan masukan dan pedoman mengenai cara-cara
dalam meningkatkan keterampilan menggiring dalam permainan sepakbola.
c.
Bagi sekolah, dengan adanya penelitian ini agar lebih
memperhatikan sarana dan prasarana olahraga, karena dengan adanya sarana dan
prasarana olahraga yang baik maka anak akan lebih banyak bergerak, semakin
banyak bergerak maka kebugaran jasmani anak akan semakin terjaga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar