Minggu, 26 April 2015

Bab I Skripsi



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang Masalah
Pendidikan jasmani adalah satu fase dari proses pendidikan keseluruhan yang menggunakan kemampuan gerak individu secara sukarela, tetapi bermakna langsung terhadap perkembangan mental, emosional, dan sosial (Nixon dan Jewett 1980:13). Konskuensinya, pendidikan jasmani harus dirancang secara khusus untuk memberikan pengaruh yang baik terhadap jasmani, emosional, sosial dan intelektual.
Olahraga dalam sebuah kerangka sistematik berarti sebuah usaha sadar untuk membentuk dan mendirikan komponen-komponen masukan, proses, dan luaran pembangunan olahraga. Sistem keolahragaan nasional adalah keseluruhan aspek keolahragaan yang saling terkait secara terencana, sistematis, terpadu, dan berkelanjutan sebagai satu kesatuan yang meliputi: pengaturan, pendidikan, pelatihan, pengelolaan, pembinaan pengembangan, dan pengawasan untuk mencapai tujuan keolahragaan nasional.
1
Dalam memahami arti pendidikan jasmani dan olahraga, kita juga  harus mempertimbangkan hubungan antara bermain (play) dan olahraga (sport), sebagai istilah yang lebih dahulu populer dan lebih sering digunakan dalam konteks kegiatan  sehari-hari. Pemahaman tersebut akan membantu para guru atau masyarakat dalam memahami peranan dan fungsi pendidikan jasmani secara lebih kontekstual.
Menurut pendidikan dan ahli psikologi, bermain merupakan pekerjaan masa anak-anak dan cermin pertumbuhan anak (Gordon dan browne, 1985:266). Bermain merupakan kegiatan yang memberi kepuasan bagi diri sendiri. Melalui bermain anak memperoleh pembatasan dan memahami kehidupan. Bermain merupakan kegiatan yang memberikan kesenangan dan dilakasanakan untuk kegiatan itu sendiri, yang lebih ditekankan pada caranya dari pada hasil yang di peroleh dari kegiatan itu (Dworesky, 1990:395). Kegiatan bermain di laksanakan tidak serius dan fleksibel. Bermain berarti berlatih, mengesplorasi, merekayasa, mengulang latihan apapun yang dapat dilakukan untuk mentransformasi secara imajinatif hal-hal yang sama dengan dunia orang dewasa (Hildebrand 1986:54)
Bermain pada intinya adalah aktivitas yang digunakan sebagai hiburan. Kita mengartikan bermain sebagai hiburan yang bersifat fisikal yang tidak kompetitif, meskipun bermain tidak harus selalu bersifat fisik. Bermain bukanlah berarti olahraga dan pendidikan jasmani, meskipun elemen dari bermain dapat ditemukan di dalam keduanya.
Permainan sepakbola merupakan salah satu cabang olahraga yang digemari masyarakat Indonesia dan banyak dimainkan oleh seluruh lapisan masyarakat, baik itu anak-anak, remaja, dan orang tua. Selain itu olahraga sepakbola juga banyak di mainkan oleh kaum perempuan baik di luar negeri maupun dalam negeri. Untuk pembinaan para pemain yang berpotensi dan berbakat akan dibina atau dilatih. Untuk meningkatkan keterampilan pemain perlu adanya organisasi sebagai tempat pembinaan. Organisasi tersebut biasa disebut dengan klub, dalam klub sepakbola tersebut perlu adanya manajemen organisasi untuk kelangsungan organisasi sepakbola tersebut. Karena dalam unsur manajemen itu meliputi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengawasan sehingga tujuan dari organisasi tersebut dapat tercapai. Dalam organisasi sepakbola tersebut juga mencakup pembinaan bagi para pemain. Pembinaan para pemain sepakbola dimulai dari masing-masing klub, kemudian klub daerah dan yang terakhir klub tingkat nasional.
Pertandingan sepakbola dimainkan oleh dua tim yang masing-masing beranggotakan sebelas pemain. Masing-masing tim mempertahankan sebuah gawang dan mencoba memasukkan bola ke gawang lawan. Setiap tim memiliki kiper yang diperbolehkan mengontrol bola dengan tangannya di daerah pinalti yaitu daerah yang berukuran lebar 44 yard dan 18 yard pada garis akhir. Pemain lainnya tidak diperbolehkan menggunakan tangan dan lengan mereka untuk mengambil bola, tetapi mereka dapat menggunakan kaki, tungkai dan kepala. Gol diciptakan dengan menendang atau menanduk bola kedalam gawang lawan. Setiap gol dihitung dengan skor satu dan tim yang paling banyak menciptakan gol memenangkan permainan. (Luxbacher, 1998:2).
Walaupun permainan sepakbola bersifat beregu namun penguasaan teknik dasar sangat diperlukan. Hampir seluruh permainan dimainkan dengan keterampilan kaki, badan dan kepala untuk memainkan bola. Namun demikian agar dapat bermain sepakbola yang baik perlu bimbingan dan tuntunan tentang teknik dasar dan keterampilan bermain sepakbola.
Keterampilan adalah derajat keberhasilan yang konsisten dalam mencapai suatu tujuan dengan efektif dan efisien. Semakin tinggi kemampuan seseorang mencapai tujuan yang diharapkan, maka semakin terampil orang tersebut Amung Ma’mun dan Yudha M. Saputra (2000:57). Keterampilan merupakan kemampuan untuk membuat hasil akhir dengan kepastian yang maksimum, tetapi dengan pengeluaran energi dan waktu yang minimum Schmidt yang dikutip dalam Amung Ma’mun dan Yudha M. Saputra (2000: 61).
Dalam permainan sepakbola selain menendang kita juga harus bisa menggiring bola atau dalam kata lain dribbling “Menggiring atau men-dribbling bola adalah menendang terputus-putus atau pelan-pelan” Sucipto (1999:28). Dari pendapat tersebut kita bisa mengetahui bahwa menggiring bola (dribbling) adalah suatu upaya mendorong bola secara terputus-putus, dengan posisi bola tidak jauh dari kaki kita sambil berlari untuk mencapai tujuan tertentu dalam permainan sepakbola.
Namun pada anak kelompok usia 13-14 tahun atau yang popular disebut dengan junior c adalah masa usia krisis (age of crisis) penyebabnya ialah di usia tersebut, anak-anak mengalami pubertas, pertumbuhan fisiologis sangat cepat sehingga pemain sering asing dengan tubuhnya sendiri. Pertumbuhan cepat dimana tubuh menjadi lebih tinggi dan besar, membuat tubuh tidak proposional dan kaku. Oleh karenanya dimasa ini pemain sulit belajar teknik sepak bola baru. Disisi lain pemain harus sudah mulai dilatih kekuatan untuk membiasakan diri dengan tubuhnya yang besar.
Dengan adanya kegiatan ekstrakurikuler diharapkan anak akan lebih banyak bergerak sehingga tidak merasa asing dengan dirinya. Kegiatan ekstrakurikuler  adalah  kegiatan  pembelajaran  di  luar  kegiatan intrakurikuler  yang diselenggarakan  secara kontekstual dengan keadaan dan kebutuhan lingkungan untuk memenuhi tuntutan penguasaan kompetensi mata pelajaran, pembentukan karakter dasar dan peningkatan hidup yang alokasi waktunya diatur secara tersendiri berdasarkan  pada kebutuhan, kondisi sekolah, madrasah atau daerah M. Nurrachmat (dalam Dimas 2010:13).
Tujuan dari kegiatan ekstrakurikuler sepakbola adalah untuk menambah keterampilan, pengetahuan   serta   menyalurkan   bakat   yang   dimiliki   siswa   serta membentuk  pribadi  siswa  yang  sesuai  dengan  perkembangan   siswa menurut jenjang atau tingkatan sekolah dengan kehidupan berbangsa berdasar pandangan hidup rakyat Indonesia. Keikutsertaan  anak  pada  ekstrakurikuler  merupakan  suatu  upaya yang  sangat  tepat  untuk  memperkenalkan  anak  pada  kehidupan  yang tidak  terikat  oleh  aturan-aturan  dalam  kelas. 
SMP Negeri 3 maospati merupakan salah satu sekolah yang juga memiliki beberapa kegiatan ekstrakurikuler salah satunya ekstrakurikuler sepakbola, SMP Negeri 3 maospati belum pernah mendapatkan gelar juara dalam setiap pertandingan sepak bola, pada tahun 2014 SMP Negeri 3 mengikuti pertandingan sepak bola Bupati Cup yang dilaksanakan di lapangan Maospati, namun gagal dalam babak penyisihan, sehingga peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di sekolah tersebut. Studi pendahuluan yang telah dilakukan sebelumnya oleh peneliti di SMP Negeri 3 maospati menunjukan bahwa bola standar yang digunakan sebagai media pada waktu latihan anak terlalu kaku dan bola tidak terkontrol pada saat menggiring bola. Bola sebagai media utama kurang menjalankan perannya dengan baik, sebab bola yang digunakan kurang dapat memberikan pengetahuan,keterampilan, yang seharusnya dimiliki siswa dalam menggiring bola.
Banyak cara untuk meningkatkan teknik dribbling anak dengan baik, salah satunya dengan menggunakan alat bantu dalam bermain, dalam hal ini bermain menggunakan alat bantu bola plastik, karena dengan bola plastik anak dapat lebih banyak menggunakannya, dan juga bola plastik relatif lebih murah, serta karakteristik bola plastik lebih ringan sehingga anak lebih leluasa menggunakannya.
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas peneliti ingin mencoba membandingkan dua media dalam penelitian ini. Media yang akan digunakan dalam penelitian adalah bola plastik dan bola standar. Oleh karena itu peneliti tertarik mengadakan penelitian dengan judul “Perbandingan Bermain Bola Plastik dengan Bola Standar Terhadap Keterampilan Menggiring dalam Permainan Sepakbola Siswa di SMP Negeri 3 Maospati”

B.     Batasan Masalah
Untuk memfokuskan masalah yang diteliti maka penulis membatasi ruang lingkup permasalahan meliputi:
1.      Variabel bebas dalam penelitian ini adalah latihan dengan bola plastik dan bola ukuran standar.
2.      Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil menggiring dalam permainan sepak bola.
3.      Penelitian ini menggunakan penelitian experimen.
4.      Populasi dalam penelitian ini adalah Siswa Putra SMP Negeri 3 Maospati kelas 7 dan kelas 8.
5.      Sampel dalam penelitian ini adalah Siswa Putra SMP Negeri 3 Maospati yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler sepakbola sebanyak 40 orang.
6.      Jenis bola yang digunakan adalah bola plastik dan bola karet.

C.    Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Apakah terdapat pengaruh yang signifikan bermain menggunakan bola plastik terhadap keterampilan menggiring dalam permainan sepak bola pada siswa di SMP Negeri 3 Maospati?
2.      Apakah terdapat pengaruh yang signifikan bermain menggunakan bola standar terhadap keterampilan menggiring dalam permainan sepak bola pada siswa di SMP Negeri 3 Maospati?
3.      Apakah terdapat perbedaan yang signifikan bermain menggunakan bola plastik dan bola standar terhadap keterampilan menggiring dalam permainan sepak bola pada siswa putra SMP Negeri 3 Maospati?

D.    Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah  sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan bermain menggunakan bola plastik terhadap keterampilan menggiring dalam permainan sepak bola pada siswa putra di SMP Negeri 3.
2.      Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh yang signifikan bermain menggunakan bola standar terhadap keterampilan menggiring dalam permainan sepak bola pada siswa putra di SMP Negeri 3.
3.      Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan bermain menggunakan bola plastik dan bola standar terhadap keterampilam menggiring dalam permainan sepak bola pada siswa putra SMP Negeri 3 Maospati.
E.     Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan mempunyai kegunaan atau manfaat penelitian sebagai berikut:
1.      Secara teoritis dapat dijadikan sumbangan keilmuan dan informasi bagi lembaga STKIP DR. Nugroho Magetan, berkaitan dengan mata kuliah cabang olahraga sepakbola, strategi belajar mengajar pendidikan jasmani, dan olahraga mengenai pentingnya proses pembelajaran menggunakan alat bantu bola plastik dan bola ukuran standar terhadap keterampilan menggiring dalam permainan sepakbola.
2.      Kegunaan Praktis
a.       Bagi siswa, dengan penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan menggiring dalam permainan sepakbola.
b.      Bagi guru sebagai bahan masukan dan pedoman mengenai cara-cara dalam meningkatkan keterampilan menggiring dalam permainan sepakbola.
c.       Bagi sekolah, dengan adanya penelitian ini agar lebih memperhatikan sarana dan prasarana olahraga, karena dengan adanya sarana dan prasarana olahraga yang baik maka anak akan lebih banyak bergerak, semakin banyak bergerak maka kebugaran jasmani anak akan semakin terjaga.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar